Rabu, 18 Januari 2012

DESA SEHAT BERBASIS MASYARAKAT DI DESA OELOMIN
Oleh: Berty Soli Dima Malingara, Icrease Kupang-NTT

Ada apa dengan desa Oelomin?????
Siapa yang tidak ingin sehat dengan kekuatan yang ada? Desa Oelomin membuktikan bahwa mereka bisa menolong diri mereka maupun saudara-saudara mereka yang lain yang ada di desa dengan menjadikan desa mereka sebagai sehat berbasis masyarakat. Mereka bekerja dalam sistem jejaring siaga untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak, menurunkan kasus pendarahan, menurunkan kasus gizi buruk, membiasakan masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat, memberikan hak anak untuk mendapatkan asi eklusif, menjadi keluarga-keluarga sadar gizi, memiliki bank darah, memiliki ambulans desa yang siap dipakai untuk mengantar ibu yang akan melahirkan maupun menolong warga yang gawat darurat, memilki tabungan/ dana solidaritas untuk membantu transport ibu yang mau melahirkan maupun warga yang gawat darurat, memiliki pemahaman yang benar tentang KB, menurunkan angka pernikahan dini dan membantu bidan dengan melakukan pencatatan berbasis masyarakat. Tertarik untuk melihat desa sehat Oelomin berbasis masyarakat Oelomin ?? 

Siapa, Dimana dan apa kekuatan Desa Oelomin?
Desa Oelomin merupakan salah satu desa di Kecamatan Nekamese dalam wilayah kabupaten Kupang yang memiliki luas wilayah 6,13Km2 . Desa Oelomin yang baru terbentuk tahun 2008 dengan kepala desa pertama Yusak Nenogasu dan kepala desa kedua yang masih menjabat sampai saat ini adalah Tuce O A Takesan. Sebelah utara Desa Oelomin berbatasan dengan kelurahan Belo dan Kolhua, kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Sebelah selatan berbatasan dengan desa Oemasi. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Tunfeu dan sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Fatukoa, kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Desa Oelomin memiliki empat buah dusun; Dusun I (Oelomin), Dusun II (Nenup), Dusun III (Naiiko), Dusun IV (Atunifui). Desa Oelomin juga memiliki 8 RW, 16 RT, 320 KK dan jumlah penduduknya 1324 jiwa dengan rincian 592 jiwa laki-laki dan 732 jiwa perempuan. Desa Oelomin memiliki hasil pertanian berupa padi, jagung, pisang dan palawija, sedangkan hasil perkebunan yang paling terkenal adalah jambu mente yang banyak ditanam di dusun IV. Untuk peternakan, hasil ternak yang ada adalah sapi, babi, ayam dan kambing.  Oelomin juga terkenal dengan desa penghasil kayu tongkat dan pakan ternak karena memiliki hutan lamtoro dan mamar yang cukup luas. Oleh karena itu, mata pencaharian utama masyarakat Oelomin adalah bertani dan berkebun tetapi ada juga yang bekerja sebagai PNS (Polisi, Guru, Bidan, PDAM), pedagang, tukang ojek, tukang jahit, tukang tambal ban, sopir, peternak dan ada juga yang menjadi TKI di Kota besar di Indonesia maupun di Luarnegeri. 

Mayoritas masyarakat desa Oelomin beragama Kristen Protestan, tapi ada juga agama lain seperti Kristen Khatolik dan Islam. Ketiga pemeluk agama yang ada di desa Oelomin mempunyai hubungan yang harmonis. Desa Oelomin memiliki 3 Gereja Protestan (GMIT Siloam, GMIT Ora Et labora dan GPDI Bukit Kasih) dengan 2 orang pendeta yang melayani jemaat. Desa Oelomin juga memiliki Sebuah SD ( SD Negeri Tunfeu 2 ) dengan jumlah murid 193 orang dengan tenaga pengajar berjumlah 13 orang. Selain SD, Desa Oelomin juga sudah mulai memikirkan untuk peduli dengan pendidikan anak usia dini ditandai dengan sudah memiliki 5 buah PAUD dengan jumlah anak 113 anak dan dibimbing oleh 13 orang tutor. Dari sisi kesehatan, Desa Oelomin memiliki 2 orang tenaga bidan yang melayani masyarakat di sebuah Polindes, 15 orang kader yang melayani 3 posyandu (Kamboja I, Kamboja II dan Tunas Harapan), 3 orang dukun bersalin dan 4 orang dukun patah tulang. Desa Oelomin juga memilki 13 unit mobil, 122 unit motor dan 771 telepon seluler (HP). Sumber daya alam lain yang dimilliki oelomin adalah 7 buah mata air, 85 sumur gali, 3 buah sumur bor, 285 buah WC dan 1 buah embung. Potensi lain yang sangat kuat dan masih dilestarikan sampai saat ini adalah kerjasama, tolong menolong dan kebersamaan yang disebut dengan istilah bahasa adat Nekamese ( satu hati), Nekamese meup tabuah ( Satu hati untuk bekerjsama), Matulun manek es nok es ( Saling baku bantu), Ba’eki, Bakoa ( Berteriak untuk mengumpulkan orang), Bahaman ( Saling memberitahu antar warga), Okomama (memberikan sirih dan pinang untuk penghargaan bagi tamu), belis (untuk perkawinan ) dan kematian ( memberikan bantuan uang, tenaga, hewan dan barang bagi keluarga yang berduka).

Apa yang menjadi Perhatian Warga Desa Oelomin?
Disamping kekuatan dan potensi yang luar biasa di atas, warga desa Oelomin juga memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan yang terjadi di desa mereka sendiri. Beberapa hal yang menjadi perhatian masyarakat antara lain: pemerintah desa kurang proaktif dalam kegiatan posyandu atau kesehatan ditandai dengan belum adanya alokasi dana desa untuk kesehatan, pemanfaatan kantor desa yang masih minim (kantor desa jarang dibuka, pengurusan administrasi desa dilakukan di rumah kepala desa, pemerintahan desa jarang masuk kantor), pencatatan yang dilakukan bidan kurang lengkap (ada kasus kematian bayu yang tidak terekam di bidan), masih ada kasus kematian bayi, kematian Ibu nifas, kasus pendarahan, gizi buruk, masih ada anak hamil di usia yang masih sangat muda, BPD yang kurang aktif dan kurang mensosialisasikan diri dengan masyarakat, jumlah WC yang belum berimbang dengan jumlah KK, masih ada penyakit gatal-gatal karena kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat, masih ada ibu yang tidak memberikan asi eklusif sebagai hak bayi, bapak-bapak masih Kurang aktif di bidang kesehatan, Kakek nenek kurang dilibatkan dalam pertemuan, pemuda kurang aktif dalam kegiatan desa, kurangnya kerjasama dari tokoh agama, tokoh masyarakat, bidan, kader, pemerintah desa untuk mewujudkan masyarakat yang sehat. Berbagai persoalan tersebut memicu warga untuk terlibat membuat perubahan menjadi desa yang lebih baik sehingga pelayanan terhadap warga desa membaik yang salah satunya bekerja sama di antara warga desa dengan memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki desa.

Mengapa Increase tertarik berkarya di desa Oelomin?

Increase memiliki pengalaman dalam mengembangkan desa siaga di beberapa desa, dan hasilnya cukup membanggakan. Berangkat dari pengalaman tersebut, Increase ingin menularkan kepada desa-desa lainnya sehingga pelaksanaan konsep desa siapa yang digagas oleh Increase dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas di desa lainya. Increase kemudian melanjutkan kerja-kerjanya untuk mengembangkan desa siaga di 10 desa yang terletak di 2 kecamatan di Kabupaten Kupang dengan dukungan dana dari program ACCESS fase II. Increase memilih desa Oelomin menjadi salah satu dampingan. Desa ini dipilih karena ada kasus kematian bayi yang baru dilahirkan. Increase menempatkan seorang staf pendamping yang tinggal (live-in) di desa dampingan. Staf tersebut tinggal selama 20 hari di desa setiap bulannya. Strategi ini dilakukan agar staf yang bersangkutan dapat membangun pertemanan dengan masyarakat desa, menemukan dan menghasilkan fasilitator-fasilitator desa yang mampu memfasilitasi kegiatan-kegiatan di desa Oelomin dan mampu membawa perubahan bagi desa mereka.  Intinya, pengetahuan dan ketrampilan staf lapangan ingin ditularkan kepada para fasilitator desa terpilih sehingga di masa datang merekalah yang menjadi penggerak perubahan di desa Oelomin. 

Kerja-kerja pengorganisasian masyarakat adalah proses yang panjang dan harus dilakukan dengan hati, bukan hanya sekedar proyek. Walaupun demikian, kerja-kerja pengorganisasian juga memerlukan strategi yang terstruktur dan luwes dalam penerapannya di lapangan. Dalam arti tidak kaku terhadap metodologi, namun harus luwes menyesuaikan dengan dinamika yang terjadi di masyarakat. Hal serupa juga terjadi dalam pengorganisasian masyarakat untuk memperkenalkan gagasan desa siaga di desa Oelomin. Kisah berikut ini adalah pembelajaran Increase dalam melakukan pengorganisasian masyarakat di desa Oelomin.
Perjalanan menjadi desa sehat berbasis masyarakat pun dimulai. Beberapa tahapan proses yang dilalui adalah sebagai berikut:

Perkenalan, membangun pertemanan dan mengumpulkan informasi

Pertemanan, adalah tahap dimana kami membangun pertemanan (bulan Maret-Agustus 2010). Tujuan dari tahapan ini adalah membangun hubungan yang baik, berbagi mimpi tentang kondisi  desa yang ingin diwujudkan, memetakan aktor/ tokoh yang bisa diajak bekerja sama dan mampu menjadi penggerak untuk kegiatan yang akan dilakukan, memiliki gambaran umum tentang gambaran umum desa maupun gambaran kesehatan masyarakat, kebiasaan-kebiasaan dan karakter dari masing-masing dusun yang ada di desa Oelomin. Kegiatan tahap ini tidak menggunakan uang, murni berteman dengan siapapun. Increase juga terus membangun pertemanan dengan beberapa tokoh kunci yang ada di desa seperti pemerintahan desa, bidan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan masyarakat desa pada umumnya. Kegiatan yang dilakukan di desa Oelomin adalah berkunjung ke kantor desa, Pustu, mengikuti kebaktian di gereja, mengikuti kegiatan posyandu, menghadiri pesta pernikahan dan kedukaan.



Sosialisasi Program Desa Sehat Berbasis Masyarakat sekaligus pemilihan Fasilitator Desa Siaga (28 Agustus 2011).  
Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan Increase dan program yang akan dilakukan bersama masyarakat, memberikan informasi tentang program yang akan menjadi milik masyarakat desa di bidang kesehatan, memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan, khususnya Kesehatan Ibu dan Anak dan memilih fasilitator desa. 

Dalam pemilihan fasilitator desa, masyarakat secara langsung menyebutkan nama dua orang yang mereka percaya mampu menjadi fasilitator desa (Fasdes). Kedua Fasdes yang disebutkan  juga bersedia menerima tugas yang diamanatkan oleh masyarakat. Kedua Fasdes bernama Ibu Erna Tafuli yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga sekaligus menjadi kader Posyandu dan Bapak Yohanis Toy yang bekerja sebagai tukang kayu dan sekaligus sebagai kepala dusun II desa Oelomin. Dalam sosialisasi ini, kami mendapat dukungan dari kepala Puskesmas karena mereka juga mempunyai program yang sama untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak melalui revolusi KIA.

·       Pengumpulan Data sekunder (Awal Oktober 2010)
Tujuan pengumpulan data sekunder adalah untuk memiliki gambaran umum desa dan gambaran kesehatan yang ada di desa Oelomin. Kegiatan ini dilakukan oleh dua orang Fasdes terpilih dan Increase, dengan menggunakan format yang disiapkan oleh Increase. Increase mendampingi Fasdes mengumpulkan data tersebut di Pustu dengan narasumber Bidan Desa dan di Kantor Desa dengan narasumber kepala desa, sekdes, dan 3 orang KAUR.

Awal Proses penyadaran dimulai…

·      Pembekalan Fasdes untuk melakukan Survey mawas Diri (25-27 November 2010)
Survey mawas diri merupakan survey yang dilakukan oleh masyarakat untuk memotret diri mereka sendiri/ melihat keadaan mereka sendiri baik itu kedaan social budaya, potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, sarana prasarana yang ada dan masalah kesehatan yang ada di desa Oelomin. Dengan melihat kekuatan yang ada maka akan membuat masyarakat bangga dengan keadaan mereka sehingga mereka akan mampu menyelesaikan persoalan kesehatan yang ada di desa mereka dengan menggunakan kekuatan mereka. Masyarakatlah yang menjadi narasumber dan tim 10 yang memfasilitasi kegiatan.

·       Pendampingan Survey Mawas Diri dusun (1-4 Desember 2010)

Kegiatan ini dilakukan di 4 dusun yang ada di Desa Oelomin. Tim 10 membuat masyarakat menemukan kekuatan dan potensi yang ada dalam desa, lebih khusus di dusun. Masyarakat sangat senang karena baru pertama kali dilakukan di Oelomin. Masyarakat berkumpul dari berbagai kalangan dan berbagai umur tanpa memandang satus sosial dan jenis kelamin, semua bebas berbicara dan semua senang berbicara dan bercerita.

·      Analisis hasil Survey Mawas Diri (SMD)
Hasil SMD tingkat dusun dikumpulkan, direkap dan dianalisis bersama oleh tim 10 sehingga bisa memetakan kekuatan dan masalah kesehatan yang terjadi di Desa Oelomin.

·       Lokakarya SMD (20 Januari 2011)
Menyampaikan hasil SMD yang dilakukan kepada masyarakat, Pemerintah desa, Kecamatan dan Puskesmas. Hal menarik disini adalah merupakan kebanggaan masyarakat bisa duduk bersama dengan Camat, Kepala Puskesmas dan LSM. Suasana kekeluargaan yang kuat yang membuat semua bebas berbicara. Hasilnya, Camat dan kepala puskesmas memberikan dukungan bagi desa Oelomin.

·      Pelatihan Pengorganisasian (14-16 juni 2011)
Pelatihan dilakukan di Gereja Ora Et labora, Desa Oelomin bersama dengan tim 10 dari desa Tunfeu dan Besmarak. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman pentingnya bekerja dalam jejaring sehingga memudahkan dalam pencatatan secara mandiri oleh warga desa. 

·       Pendampingan Pengorganisasian (06,07,08,11 Juli 2011)
Tim 10 melakukan pendampingan dengan memberikan penjelasan mengapa harus membentuk jejaring dan memfasiliatsi masyarakat dusun untuk memilih pengurus jejaring tingkat dusun.

·       Lokakarya desa tentang Pengorganisasian (12 Agustus 2011)
Pengesahan pengurus jejaring tingkat dusun sekaligus pemilihan pengurus inti desa siaga desa Oelomin.

Tantangan Pengorganisasian Masyarakat di Desa Oelomin
 
Dalam perjalananan menuju desa sehat, kami juga mengalami kesulitan-kesulitan yang akhirnya bisa kami selesaikan seperti waktu yang selalu molor karena kesibukan masyarakat yang membuat kita harus sabar dan paling cepat menunggu 3 jam untuk memulai kegiatan dan ada beberapa warga yang awalnya tidak setuju tapi kemudian beralih setuju dan membantu kami untuk mensosialisasikan kepada masyarakat. Dalam proses pengorganisasian, ada juga beberapa kakek yang kurang setuju dengan gagasan Dana Solidaritas Masyarakat (dasolin) karena menganggap mereka tidak punya istri dan akan segera meninggal jadi merek tidak mau memberikan dasolin. Tim 10 memberikan pemahaman dan mengajak kakek-kakek untuk memikirkan generasi Oelomin yang lebih sehat untuk bisa menjadi pemimpin yang baik di desa Oelomin. Kakek-kakek akhirnya semangat dan langsung mau menyumbang untuk dasolin.
 
Dari proses tersebut, kami belajar bahwa kebiasaan masyarakat memperoleh bantuan secara cuma-cuma atau gratis yang tidak diikuti oleh upaya pemberdayaan yang menjadiakan masyarakat menjadi kritis dan kuat, seringkali membuat masyarakat enggan untuk membangun desanya secara swadaya. Padahal persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat termasuk kesehatan sangatlah banyak dan penting untuk segera diatasi. Jika hanya berharap dari pemerintah, manalah bisa? Warga harus aktif memperhatikan pembangunan di desanya dan berani menagih tanggung jawab pemerintah ketika lalai menjalankan kewajibannya.
 
Bagaimana dengan perubahan di Desa Oelomin?
Perubahan besar yang terjadi setelah rangkain kerja di atas dilaksanakan adalah fasilitator desa menjadi lebih percaya diri dalam memfasilitasi dan dalam kegiatan-kegiatan di kampung maupun pada saat temu akbar dengan mitra-mitra Increase dan lembaga lain ketika berbicara tentang desa sehat berbasis masyarakat. Kepala Desa terlibat aktif adalam kegiatan posyandu, mengkampanyekan dasolin, mengantar warga yang akan bersalin ke Puskesmas, menyediakan mobilnya untuk menjadi ambulans desa, mendukung kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan di desa, dan sudah memberikan pelayanan masyarakat di kantor desa. Tokoh agama juga sudah mewartakan jadwal posyandu, hasil-hasil kegiatan desa sehat berbasis masyarakat, maupun informasi kesehatan lainnya melalui mimbar gereja, mampu turun ke masyarakat dan bekerjasama dalam tim 10. Pemerintah desa dan BPD menjadi lebih aktif dalam kegiatan-kegiatan dusun maupun tingkat desa dimana BPD memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk tidak bekerja dengan mengharapkan uang tetapi menggunakan kekuatan yang ada. 

Beberapa Warga mendorong agar jejaring segera berjalan karena bermanfaat bagi masyarakat. Ada warga yang langsung menyumbang pada saat pembentukkan jejaring di tingkat dusun. Ada warga yang sadar meminta pemerintah terus mendukung kegiatan di bidang kesehatan. Ada warga yang sadar pentingnya penyuluhan kespro inginkan sosialisasi kesehatan reproduksi karena keponakannya mengalami kasus kehamilan di usia sekolah. Masyarakat (Ibu Hamil, Ibu Bayi Balita, Bapak Bayi Balita) mulai sadar dan terlibat dalam posyandu. Masyarakat terlibat dalam pawai pembangunan tingkat provinsi untuk mengkampanyekan persalinan selamat, masyarakat mulai memberikan tabungan sebagai dana solidaritas bersama, penyuluhan kesehatan reproduksi bagi siswa-siswi SD Negeri Tunfeu 2 oleh guru-guru SD, Bidan juga bisa bekerjasama dengan kader posyandu dan unsur lain. Camat dan kepala puskesmas yang pro aktif dalam mendukung setiap kegiatan, kolaborasi dengan pihak lain yang peduli dengan kesehatan di desa Oelomin.
 
Mengapa bisa membuat perubahan?
Proses pendampingan SMD (Survey Mawas Diri) ternyata menjadi titik kekuatan yang menyumbang pada terjadinya perubahan. Melalui pendampingan SMD, membuat warga sadar bahwa ternyata mereka punya potensi dan menyadari masih adanya persoalan kesehatan yang harus diatasi dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki dan menjadi tanggung jawab masyarakat desa sehingga dalam proses pengorganisasian warga mau untuk menjadi pengurus dan bekerja dalam system jejaring siaga. Proses survey mawas diri melibatkan orang tua, laki-laki, perempuan, pemuda, ibu hamil, ibu bersalin, pemuda, Kami sangat yakin perubahan terjadi kerena ada Keterbukaan, Kepercayaan, komunikasi, kesadaran, kepedulian, keinginan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik, komitmen dan  kerjasama yang baik dari semua unsur yang ada di desa dengan memanfaatkan semua potensi yang mereka miliki maupun unsur lain yang peduli dengan desa Oelomin. Masyarakat sadar kesehatan penting, dan tanpa kesehatan segala sesuatu menjadi tidak berarti.

Testimoni dukungan camat pada saat lokakarya hasil SMD:

“Saya selaku pimpinan wilayah Kecamatan Nekamese memberikan apresiasi kepada tim Desa Siaga dan teman-teman dari Increase yang telah memberikan penguatan kapasitas bagi fasilitator desa Oelomin sehingga mampu melakukan kegiatan Survey Mawas Diri (SMD) di 4 dusun Desa Oelomin ini. Saya harap kegiatan ini dapat membangun dan membawa perubahan desa Oelomin ke arah yang lebih baik, khususnya dalam bidang kesehatan di Desa Oelomin. Saya juga menghimbau kepada masyarakat juga agar tidak bergantung  kepada bantuan dari luar, tetapi dengan potensi-potensi yang ada dan kerjasama dari semua pihak yang ada di desa, mari kita bangun desa Oelomin menjadi desa yang sehat. Yang datang dalam pertemuan ini hendaknya menjadi corong bagi masyarakat Oelomin lain yang tidak hadir pada hari ini. Mari kita bekerja keras dan bersama-sama membangun Oelomin, baik pemerintah desa, semua unsur yang ada maupun LSM-LSM lain yang peduli dengan kesehatan di desa Oelomin agar Oelomin bisa terus menjadi lebih baik. Saya juga berharap dari Desa Oelomin ke depan desa ini akan menjadi contoh buat desa-desa yang lain di kecamatan Nekamese dalam menyelesaikan kasus-kasus KIA”. 

Untuk kepala desa di seluruh kecamatan Nekamese, saya wajibkan untuk membuat tiga perdes dalam tahun 2011 ini. Tiga perdes yang wajib dibuat oleh kepala desa se-Kecamatan Nekamese adalah : Perdes tentang APBDes, Perdes tentang Kesehatan, Perdes tentang Pendidikan. Saya juga memerintahkan kepada Sekdes untuk membuat jadwal untuk Kaur agar berada di kantor Desa. Untuk BPD, saya wajibkan agar mensosialisasikan diri kepada masyarakat dan harus terlibat aktif dalam setiap kegiatan yang terjadi di desa.

Tentang Penulis:
Bery Soli Dima Malingara atau akrab dipanggil Berty, adalah staf lapangan untuk desa Oelomin dari sebuah lembaga swadaya masyarakat yang di Kupang NTT. Berty bisa ditemui di kantor Increase yang beralamat di Jl Asoka No 20, Bakunase, Kupang

 
TAKLUKKAN DUNIA DENGAN EKONOMI RUMAH TANGGA
Oleh Herlince Padeda, Jarpuk Ina Fo’a Kupang NTT

Tanpa disadari setiap pekerjaan yang kita lakoni perlu perhatian serius manakala yang dilakukan membawa dampak positif bagi kehidupan. Apalagi kegiatan dimaksud adalah usaha sampingan yang tidak pernah diperhitungkan dan menjadi perhatian bersama. Adalah sebuah organisasi perempuan yang beranggotakan individu-individu yang memiliki usaha rumahan yang sangat variatif yang diberi nama Jaringan Perempuan Usaha Kreatif (Jarpuk) Ina Fo’a Kupang. Jarpuk Ina Fo’a Kupang dibentuk pada 12 Juli 2002 oleh salah satu LSM anggota asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kreatif (ASSPPUK) yakni LSM Sanlima yang berkedudukan di jalan Adisucipto Penfui Kupang yang mencoba melakukan gebrakan baru dengan memiliki harapan bahwa suatu waktu akan:  terwujudnya perempuan yang sukses dan mandiri dalam usaha ,bebas dari kekerasan dan diskriminasi,sehat jasmani dan rohani,bijaksana dan demokratis serta peduli terhadap lingkungan hidup. Dengan mimpi tersebut Jarpuk terdorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan demi meningkatkan kapasitas dan potensi yang ada di masyarakat. Namun dalam kurun waktu itu, kendala utama yang dialami Jarpuk adalah pola pendampingan oleh lembaga pendamping.  Pola pendampingan yang dilakukan membuat Jarpuk tetap tak berdaya dan ketergantungan pada lembaga pendamping. 

Waktu silih berganti, sebuah perjalanan yang sangat membosankan. Kelompok di desa menanti penuh cemas karena sejak tahun 2004 – 2005 Jarpuk seolah mati suri. Keadaan ini mendorong beberapa pengurus Jarpuk saat itu: Heny Padeda, Martha Kewuan dan orang-orang yang peduli pada perempuan yakni Enzo Rani, Vinsen Bureni, Djoharjo Padeda, Tarsisius Tani, Valen Manek, Ita Sarina, Largus Ogut melakukan tindakan “penyelamatan” serta mau membuktikan pada publik bahwa Jarpuk adalah organisasi perempuan pejuang harkat dan martabat kaumnya. Melalui pertemuan forum ASSPPUK wilayah Nusa Tenggara pada bulan Nopember 2007 di Mataram, pengurus menyampaikan kondisi Jarpuk saat itu dan secara langsung meminta ASSPPUK wilayah untuk memberikan kewenangan kepada perkumpulan Bengkel APPeK  menjadi pendamping Jarpuk Ina Fo’a Kupang. Hal ini disambut baik pada Forwil dan Bengkel APPeK dan selanjutnya mendampingi Jarpuk Ina Fo’a Kupang.
 

Pengurus di tingkat KPUK (kelompok perempuan usaha kreatif) di wilayah desa dan kelurahan yakni Widia Ullu, Antonia Tatibun, Yustina Sadji, Welhelmina Manafe, Yulita Remo, Dian Katu. Mereka terlibat secara aktif dalam setiap rencana dan kegiatan yang dilakukan di tingkat Jarpuk sehingga terbangunlah kerja sama yang solid antara pengurus. Kondisi riil masyarakat di Kabupaten Kupang bila dilihat dari segi ekonomi sangat memprihatinkan, apalagi jika berbicara ekonomi yang  punya kaitan dengan perempuan, maka membutuhkan kerja keras dan motivasi dari perempuan itu sendiri. Usaha ekonomi produktif oleh perempuan sangat jarang mendapat perhatian dari pemerintah. Karena itu Jarpuk terpanggil dan terdorong untuk memberikan pemahaman kepada  masyarakat bahwa sesungguhnya kegiatan ekonomi produktif yang dilakukan perempuan menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama masyarakat dan pemerintah. Selama ini usaha produktif yang dilakukan oleh perempuan dianggap sebagai usaha sampingan, padahal usaha-usaha ini dapat membantu pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Misalnya, hasil tenun yang dibuat oleh perempuan tidak pernah diperhitungkan sebagai usaha produktif tetapi hanya merupakan usaha sampingan rumah tangga. Padahal dalam kebanyakan kasus, hasil berbagai usaha kreatif tersebut dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup, berobat bahkan membiayai anak sekolah. Ini berarti bahwa usaha produktif yang digerakkan oleh perempuan ternyata dapat membantu peningkatan akses anggota keluarga terhadap pendidikan dan kesehatan yang lebih baik. Walaupun seharusnya akses pada kedua pelayanan tersebut  dijamin oleh negara, namun pada kenyataannya seringkali negara (pemerintah) tidak hadir memenuhi kebutuhan tersebut secara layak. Inilah kehebatan dan hal yang sangat luar biasa yang dilakukan oleh perempuan.
Pada Januari 2006 Jarpuk melakukan pendekatan dengan beberapa Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang mengelola dana pemberdayaan dari pemerintah. Namun hanya Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kupang yang bersedia membangun kerja sama dengan Jarpuk. Pada Mei 2006 Jarpuk memperoleh tambahan modal pengembangan usaha melalui KPUK FUA FUNI Kelurahan Babau Kecamatan Kupang Timur dan KPUK Usaha Baru Desa Oemasi Kecamatan Nekamese masing-masing  Rp.5.000.000.- (lima juta rupiah) dan pencairan serta pengembalian dilakukan langsung dengan Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kupang yang diangsur selama 10 bulan tanpa bunga. Hal ini memberikan nilai positif bagi KPUK-KPUK lain yang belum memperoleh tambahan modal pengembangan usaha.
 

Jarpuk  menyadari sesungguhnya perempuan pada umumnya memiliki potensi yang sangat berarti tapi terkadang perempuan sendiri belum sepenuhnya menyadari akan hal itu. Oleh karena itu, Jarpuk mulai melakukan pendekatan kepada masyarakat, berdialog dengan perempuan-perempuan di desa Oemasi, Oben, Noelbaki, Oelpuah, Oelnasi, Kuaklalo, Oeltua, Tanah Putih dan Tuapukan tentang pentingnya berorganisasi serta bagaimana memulai sesuatu dari apa yang ada pada diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Jarpuk bermaksud membangun kesadaran dan kemauan PUK untuk memulai mengorganisir diri, melakukan kegiatan-kegiatan secara bersama-sama serta memulai dari apa yang dimiliki karena aset terpenting dari PUK adalah kemauan untuk diubah dan berubah.
Pada awalnya, upaya Jarpuk tidak memperoleh respon positif dari masyarakat, seperti yang dialami di Desa Tuapukan dan Tanah Putih. Mereka masih menganggap kerja-kerja yang digerakkan oleh para perempuan biasanya tidak begitu dilihat atau dipandang di kalangan pemerintah dan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat yang dipahami oleh masyarakat pun pada waktu itu lebih berat kepada keberadaan bantuan-bantuan gratis seperti yang dilakukan pemerintah selama ini. Masyarakat di kedua desa tersebut tampak keberatan untuk memulai bersama-sama mengidentifikasi dan memanfaatkan aset-aset yang dimilikinya untuk memberdayakan dirinya.
 

Gambaran di atas menunjukkan bahwa proses pengorganisasian masyarakat dengan mengembangkan kelom[ok-kelompok pada hakekatnya merupakan proses interaksi antar manusia dalam kelompok yang memiliki arti luas. Masing-masing individu dalam masyarakat harus saling bersepakat untuk hidup bersama dan kerja bersama berdasarkan nilai yang disepakati bersama. Namun terkadang tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama. Masing-masing kelompok masyarakat mempunyai dinamikanya sendiri-sendiri. Persoalannya sekarang adalah bagaimana mengatasi persoalan tersebut agar setiap individu dalam kelompok mempunyai kesempatan dan rasa aman untuk meningkatkan atau mengembangkan dirinya masing-masing, sehingga kelompok tersebut bukan lagi terdiri dari individu-individu yang saling mendominasi dan tempat mempertahankan kemauan sendiri, tetapi menjadi tempat peleburan dari berbagai potensi untuk membentuk kebersamaan dalam memantapkan tujuan kelompok.
 

Sejak tahun 2002 hingga tahun 2008, keanggotaan Jarpuk hanya 183 PUK. Namun berkat kerja sama yang baik antara Pengurus dan Penanggung jawab Lapangan, jumlah PUK anggota Jarpuk saat ini 452 PUK aktif. Jumlah tersebut belum termasuk KPUK baru dan simpatisan.
 

Komitmen dan tanggung jawab yang diemban oleh Jarpuk merupakan daya juang bagaimana menjadikan KPUK berdaya. Pembagian peran dalam organisasi Jarpuk yang telah diemban oleh masing-masing pengurus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan-kegiatan pelatihan pengolahan baik pengolahan hasil pertanian yang dilaksanakan di tingkat KPUK diikuti dengan analisa usaha untuk menentukan nilai jual dari sebuah produk yang dihasilkan. Juga dilakukan pengemasan produk dengan baik yang disertai label produk untuk meyakinkan konsumen bahwa produk yang ditawarkan oleh kelompok-kelompok usaha kreatif yang dikelola oleh Jarpuk tersebut bermutu. Produk-produk olahan yang dihasilkan di antaranya adalah olahan abon buah dan bunga pepaya, kripik pisang caramel, kripik pisang salut nangka, kacang telur tapioca, dodol pisang, dodol nangka, kripik ubi pedas manis, marning jagung dan olahan hasil laut berupa dendeng ikan, krupuk ikan, abon ikan, pilus rumput laut dan pilus udang. Produk-produk tersebut merupakan hasil bumi yang dimiliki oleh desa-desa anggota Jarpuk. Keragaman produk mencerminkan keragaman aset berupa hasil bumi yang dimiliki oleh desa, dalam hal ini masing-masing desa mempunyai ciri khas produknya sendiri.
 

Dalam rangka mendukung kerja-kerja yang dilakukan, Jarpuk  membangun kerjasama mulai dari pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, Dinas Perindag, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Ketahanan Pangan, BPP, Dinas Kesehatan, Balai POM, dan LSM dan pengusaha untuk berbagi informasi, penguatan kapasitas, permodalan dll. Jarpuk sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan penguatan kapasitas yang dilakukan pemerintah maupun LSM, juga mulai memperoleh bantuan-bantuan sosial. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan kemauan, keseriusan, ketekunan, serta komitmen, maka akan terjawab pada waktunya. Hal ini dibuktikan dengan capaian-capaian Jarpuk berikut ini:
  • Diterbitkannya 8 Perijinan Industri Rumah Tangga( PIRT) oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang kerjasama dengan Balai POM  dengan anggaran dari pemerintah
  • Produk olahan makanan laut yang sementara dalam proses perijinanan oleh LSM FAO.
  • Produk Jarpuk  dapat dipasarkan melalui pusat perbelanjaan ‘SUDI MAMPIR” ,Depot istana,Lois Arhshop,juga kios-kios dan pesanan langsung.
  • Jarpuk menjadi fasilitator wirausaha dan narasumber dari tingkat kelompok sampai ke kabupaten atas permintaan Pemda dan lembaga-lembaga mitra ACCESS,dan LSM lain.
  • Ada permintaan dari PUK untuk bergabung di Jarpuk dari kecamatan Nekamese,Kecamatan Kupang Tengah,Kecamatan Kupang Timur,Kecamatan Semau.
  • Adanya bantuan alat produksi dari Nakertrans Propinsi,dan FAO untuk 6 KPUK pengolahan hasil laut dengan nilai alat untuk masing-masing KPUK enam juta rupiah.
  • Adanya bantuan benang gratis kepada 4 KPUK penenun.
  • Adanya wira usahawan muda di kota dan Kabupaten Kupang hasil pelatihan Jarpuk
Capaian-capain ini terwujud karena Pengurus dan PL Jarpuk memiliki komitmen, sikap rela berkorban  tidak pernah memperhitungkan berapa lama,berapa jarak yang ditempuh, berapa rupiah untuk mencapai tujuan bersama jarpuk. Upaya-upaya yang dilakukan Jarpuk untuk tujuan dimaksud antara lain:
  • Sosialisasi secara langsung melalui pertemuan-pertemuan dari KPUK dampingan dan pertemuan-pertemuan lain,dan melalui media elektronik 
  • Melakukan  praktek-praktek inovasi di KPUK
  • Terlibat dalam pameran-pameran pembangunan dari tingkat desa sampai Propinsi.
  • Membangun koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak.
  • Kesepakatan untuk penguatan kapasitas pengurus dan PL.
  • Merekomendasikan kaum muda ke Lembaga FAO untuk penguatan kapasitas,dan permodalan.
Cerita yang disampaikan kali ini merupakan  penggalan pembelajaran yang kami peroleh dan akan menjadi cerita yang  berkesinambungan pada kisah selanjutnya. Selamat berkarya  sukses menyertaimu.

JARPUK Ina Fo’a (perempuan membangun) adalah tempat pembelajaran bagi perempuan desa untuk meningkatkan kemandirian. JARPUK Ina Fo’a saat ini mempunyai 453 anggota aktif yang tersebar di 29 desa & kelurahan di 8 kecamatan di Kupang (NTT) dan seluruhnya berbasis kesukarelawanan. JARPUK melakukan pemberdayaan kelompok-kelompok perempuan usaha kecil yang mengolah produk lokal Kupang, mengembangkan koperasi dan penguatan kelembagaan kelompok. Alamat: Jl. Shopping Center, pertigaan kantor Lurah Fatululi Oebobo-Kupang

Jumat, 13 Januari 2012

DESA SEHAT BERBASIS MASYARAKAT
Oleh Steny, Increase Timor

Visi Pembangunan Kesehatan adalah Indonesia Sehat 2010, hal ini tertuang dalam keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 574/Menkes/SK IV/ 2000. Visi tersebut menggambarkan bahwa pada tahun 2010 bangsa Indonesia hidup dalam lingkungan yang sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat serta mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, sehingga memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Berbagai upaya untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah Propinsi NTT dengan dukungan lembaga internasional telah menunjukan adanya kemajuan, namun masih jauh dari kondisi yang diharapkan. Salah satu penyebab yang perlu dicari pemecahannya adalah masih rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam mengatasi maslah-masalah kesehatan ini.  Pemberdayaan masyarakat sebagai upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat di bidang kesehatan yang telah dilaksanakan di Propinsi NTT ini, belum dapat memberikan kontribusi yang optimal terhadap peningkatan kondisi kesehatan ini. Oleh karenanya upaya-upaya ini masih terus dilaksanakan oleh pemerintah dengan dukungan lembaga-lembaga internasional.

Menindak lanjuti upaya pemerintah dan lembaga internasional untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010, maka saat ini Increase Timor bekerja sama dengan Program ACCESS Fase II - AUSAID membuat satu kontrak kerja untuk mengembangkan desa siaga di kabupaten Kupang dengan tema ”Desa Sehat Berbasis Masyarakat”.

Desa sehat berbasis masyarakat atau desa siaga adalah ”desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya, kemampuan, serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan, secara mandiri” . Tujuan umum desa siaga adalah “Terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya”. Sedangkan tujuan khusus desa siaga adalah “Meningkatnya pengetahuan  dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan, meningkatnya kewaspadaan  dan kesiapsiagaan kmasyarakat desa terhadap resiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah, kegawat-daruratan dan sebagainya meningkatnya  keluarga  sadar  gizi dan melaksanakan perilaku  hidup bersih  dan sehat meningkatnya kesehatan lingkungan di desa serta meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk  menolong  diri sendiri di bidang kesehatan.

Apren adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Amarasi Kabupaten Kupang. Dalam program desa sehat berbasis masyarakat, desa Apren terpilih menjadi salah satu desa dampingan Increase dari 5 desa di wilayah Amarasi. Desa apren  terbentuk pada tahun 1967 sebagai desa gaya baru. Orang pertama yang masuk di desa Apren adalah marga “pono” pada tahun 1800 an. Ada dua versi dari silsilah pono, yaitu pono metan; kemungkinan berasal dari pulau Sabu dan pono moro, kemungkinan berasal dari Lospalos Timor Leste. Desa Apren sendiri merupakan gabungan dari tiga marga yaitu : Abineno, Pono dan Renati. Salah satu alasan Apren menjadi desa dampingan Increase karena dari data awal yang kami dapatkan melalui Puskesmas Okekabiti bahwa sampai saat ini belum ada bidan desa yang melayani di pustu Apren, sekalipun Apren sudah memiliki pustu sejak tahun 2007. Sedangkan salah satu kriteria desa siaga adalah adanya bidan desa yang tinggal tetap di desa untuk memberikan pelayan yang maksimal kepada semua masyarakat desa.

Apren sendiri adalah desa yang memiliki potensi alam yang sangat luar biasa, kelapa dan pisang contohnya. Pandangan dari masyarakat desa Apren adalah dapur kelapa dan pisang untuk kabupaten Kupang hal inilah yang selalu menunjang faktor ekonomi masyarakat Apren. Selain kelapa dan pisang, Apren juga memiliki danau yang sangat luar biasa yakni “Danau Nefokou”. Dari informasi masyarakat, sejak tahun 2008, desa Apren menjadi tuan rumah SAIL PARIWISATA INTERNASIONAL karena keindahan danau Nefokou ini. Kurangnya respon positif dari pihak pemerintah Kabupaten Kupang dan Propinsi NTT, khususnya dinas pariwisata, menyebabkan kurangnya investasi yang masuk untuk mengembangkan aset wisata ini baik secara nasional maupun internasional.

Setelah mendapatkan data dan informasi seputar masalah kesehatan melalui pihak puskesmas, maka kami menetapkan Apren menjadi salah satu desa dampingan kami untuk pengembangan desa siaga. Hal ini kami sampaikan kepada pihak kecamatan dan pada waktu itu camat Amarasi Bapak Daniel Ton pun memberi respon positif tentang hal ini, terbukti dengan dikeluarkannya surat pemberitahuan kepada Pemerintah Desa Apren tentang program yang akan dilakukan Increase selama 28 bulan. Pemerintah Desa Apren pun menerima dengan senang hati.  Kunci sukses masuknya Increase di wilayah Kecamatan Amarasi adalah sistem membangun pertemanan yang kami lakukan baik dengan pihak kecamatan, puskesmas dan pemerintah desa bagi desa-desa yang akan menjadi dampingan kami.

Proses awal kegiatan kami melakukan sosialisasi program desa siaga dan pemilihan fasilitator desa. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan diri sekaligus memperkenalkan program kepada masyarakat, memberikan informasi tentang program yang akan menjadi milik masyarakat desa di bidang kesehatan, menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan, khususnya kesehatan ibu dan anak. Sedangkan pemilihan fasilitator desa bertujuan untuk bersama-sama pendamping mengumpulkan data sekunder tentang infomasi desa berkaitan dengan masalah kesehatan. Dalam proses ini para peserta yang hadir bersepakat untuk memilih ibu Yakomina Klau dan ibu Jublina Abineno sebagai fasilitator desa. Pertemuan dilakukan di aula kantor desa dan yang dihadiri oleh pihak kecamatan (kasie Kesos), puskesmas, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda dan beberapa warga lainnya desa baik laki-laki maupun perempuan. Jumlah peserta mencapai 40 orang. Kegiatan sempat tertunda beberapa jam karena kehadiran masyarakat yang tidak tepat waktu karena berbagai kesibukan, naman saya sebagai pendamping yang mamfasilitasi kegiatan ini beserta undangan  lainnya tetap menanti dengan semagat sampai kehadiran mencapai kurang Lebih 40 orang peserta. Terlambatnya warga untuk menghadiri pertemuan-pertemuan di kampung merupakan salah satu kendala lapangan yang sering kami alami sehingga memerlukan kesabaran untuk menunggu sebelum pertemuan dimulai.

Kegiatan lanjutan yang dilakukan setelah sosialisasi desa siaga, pemilihan fasilitator desa dan pengumpulan data sekunder adalah Survey Mawas Diri (SMD). Namun sebelum melakukan SMD, kami memilih 8 orang dari desa bersama fasilitator desa yang kami sebut dengan Tim 10 dan dilanjutkan membuat pelatihan bagi fasilitator desa (Fasdes) untuk pelaksanaan SMD.  Tujuan kegiatan ini adalah untuk mempersiapkan fasilitator-fasilitator desa melakukan proses fasilitasi SMD dengan menggunakan Teknik PLA (Participatory Learning and Action) dan panduan pertanyaan seputar kesehatan ibu dan anak (KIA). Subtansi pelatihan berkisar tentang beberapa teknik pengumpulan informasi, (wawancara, diskusi), kalender musim, diagram kelembagaan, peta desa dan peta mobilitas Ibu hamil. Survey Mawas Diri merupakan survey yang dilakukan oleh masyarakat untuk memotret diri mereka sendiri/melihat keadaan mereka sendiri baik tentang keadaan sosial budaya, potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, sarana prasarana yang ada dan masalah kesehatan yang ada di desa. Dengan melihat kekuatan yang ada maka akan membuat masyarakat bangga dengan keadaan mereka sehingga mereka akan mampu menyelesaikan persoalan kesehatan yang ada di desa mereka dengan menggunakan kekuatan mereka. Masyarakat sendirilah yang memberikan informasi-informasi sehingga diharapkan fasilitator mampu menggali sedalam mungkin tentang potensi, masalah serta informasi lain yang termuat dalam panduan. Peserta yang dilatih adalah Tim 10 yang diambil dari beberapa unsur, yaitu 2 orang fasilitator desa terpilih, 3 orang pemerintah desa dan 5 orang kader Posyandu. Kegiatan ini dilakukan selama 3 hari bertempat di aula kantor desa Oenoni. Kegiatan pelatihan ini bukan hanya ditujukan untuk tim dari desa Apren, namun juga untuk tim dari desa Oenoni.

Setelah melakukan pelatihan bagi tim 10, selanjutnya pendamping bersama tim melakukan Survey Mawas Diri di tingkat 4 dusun mulai sesuai jadwal dan kesepakatan dengan pemerintah desa serta kepala dusun. Kegiatan SMD ini bertujuan untuk menggali potensi dan masalah yang ada di desa berkaitan masalah kesehatan. Dalam Proses Survey Mawas Diri, masyarakat sangat antusias dan sangat senang karena tim mengawali survey dengan menggali sejarah desa, potensi-potensi yang ada di desa (potensi SDA, SDM dan sarana prasarana), budaya-budaya atau kearifan lokal yang ada di desa, kebiasaan yang dilakukan oleh ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, menyusui dan cerita keberhasilan yang pernah mereka raih. Masalah-masalah kesehatan yang terjadi di desa seperti kasus kematian bayi, kematian ibu bersalin maupun kasus pendarahan juga disampaikan oleh masyarakat dan diketahui oleh beberapa masyarakat yang belum tahu tentang masalah kesehatan yang ada di desa. Ada hal-hal yang mereka anggap tabu untuk dibicarakan tapi ketika Fasdes menyampaikan dengan bahasa daerah maka mereka akhirnya bisa menceritakan itu kepada tim 10.

Dalam SMD, kami selalu memberitahukan kepada masyarakat bahwa mereka adalah narasumber/ pemilik informasi karena mereka yang mengalami dan mengetahuinya. Kegiatan di tingkat dusun di fasilitasi oleh pendamping dan tim 10. Biaya survey dikelola oleh Increase berupa biaya snack dan makan siang untuk warga dan biaya transportasi untuk Tim 10. Kendala yang dihadapi dalam kegiatan ini adalah molornya waktu kegiatan serta masih tingginya persepsi masyarakat tentang lembaga luar atau donor yang masuk ke desa akan memberi bantuan-bantun fisik.

Setelah kegiatan SMD berakhir, pendamping dan Tim 10 bersama-sama melakukan anlisa hasil informasi yang diperoleh dari setiap dusun. Proses analisa menggunakan pola sebab akibat, dimana setiap persoalan atau masalah-masalah yang ditemukan dicari penyebabnya, akibatnya, hal positif, hal negatif, solusi, dan ada rekomendasi umum yang akan di bawa pada lokakarya desa hasil Survey Mawas Diri. Lokakarya desa merupakan proses pemberdayaan masyarakat dalam menganalisa situasi kesehatan mereka sendiri, menggunakan informasi guna memahami dan menyadari situasi kesehatan mereka dan mempertimbangkan potensi yang mereka miliki untuk merencanakan aksi guna meningkatkan kondisi kesehatan mereka. Proses lokakarya ini dilakukan di kantor desa dengan menghadirkan masyarakat agar hasil SMD di setiap dusun dapat di ketahui secara bersama-sama. Peserta kegiatan sosialisasi hasil SMD tersebut kurang lebih 60 orang. Kegiatan sosialisasi memakan biaya Rp 750 ribu, dibiayai oleh Increase dan juga ada kontribusi dari desa sebesar Rp 50 ribu.

Tindak lanjut dari SMD adalah pengorganisasian jejaring siaga tingkat dusun sampai tingkat desa. Namun sebelum kami turun ke dusun-dusun untuk memulai kegitan ini, kembali kami mengadakan pelatihan bagi Tim 10 untuk penguatan kapasitan berkaitan dengan cara membangun sistem jejaring siaga. Pelatihan ini dilakukan bersama Tim 10 desa Oenoni dan yang menjadi tuan rumah adalah desa Apren. Perlu diketahui bahwa selain mendampingi desa Apren, pendamping juga mendampingi desa Oenoni yang bertetangga dengan desa Apren yang juga masuk dalam wilayah Kecamatan Amarasi Kabupaten Kupang. Kegiatan berlangsung selama 3 hari di balai pertemuan dusun 3 desa Apren. Biaya pelatihan ditanggung oleh Increase Timor, mulai dari ATK hingga dukungan transportasi Tim 10. Kontribusi pemerintah desa Apren adalah menyediakan gedung untuk tempat pelatihan. Di akhir pelatihan, pendamping bersama Tim 10 menyusun rencana tindak lanjut pengorganisasian jejaring siaga tingkat dusun sampai dengan lokakarya desa dan pengorganisasian sistem siaga. Pengorganisasian sistem siaga merupakan suatu  proses menggerakkan masyarakat  untuk  membentuk  dan melaksanakan sistem pertolongan kegawatdaruratan kesehatan di  di tingkat desa, berdasarkan prinsip dari oleh dan untuk  masyarakat. Yang dimaksud ‘dari masyarakat’ adalah ditandai dengan membangun inisiatif masyarakat untuk menggunakan segala sumber daya yang ada di desa baik yang berasal dari sumber daya lokal maupun dari sumberdaya yang dapat diakses masyarakat  dari luar desa. Sedangkan yang dimaksud ‘oleh masyarakat’, ditandai dengan pengambilan peran yang optimal oleh masyarakat untuk melaksanakan sistem siaga tanpa tergantung sepenuhnya dari inisiatif pihak luar. Sumberdaya yang telah dimiliki masyarakat  berupa dana maupun  fasilitas lain dikelola oleh masyarakat  berdasarkan menejemen transparan melalui keputusan bersama di tingkat  desa.’Untuk masyarakat’, ditandai dengan segala pelayanan  yang diatur dalam siaga ditujukan kepada seluruh  warga desa tanpa terkecuali guna  meningkatkan kondisi kesehatan masyarakat serta menyelamatkan dari resiko kematian.

Untuk desa Apren, pengorganisasian jejaring siaga tingkat dusun dimulai pada bulan September 2011 yang lalu dimana pendamping bersama tim 10 turun ke 4 dusun di desa Apren. Kegiatan di tingkat dusun difasilitasi oleh pendamping dan Tim 10 dan di danai oleh Increase berupa biaya snack dan makan siang, dan untuk tim 10 di siapkan biaya transportasi.

Kemandirian masyarakat dalam mengelola sistem siaga tidak diartikan bahwa mereka tidak menerima bantuan dari luar. Bantuan dari luar bukan merupakan hal yang tabu, tetapi sebagai penguatan terhadap  sumber daya yang dimiliki masyarakat. Dengan cara ini maka masyarakat akan merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan sistem siaga.

Menindaklanjuti apa saja yang sudah di buat di tingkat dusun, maka untuk menyatukan kesepakatan-kesepakatan bersama, kami melakukan lokakarya desa. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyamakan kesepakatan dan memilih pengurus jejaring tingkat desa. Hasil lokakarya desa merupakan dasar yang digunakan untuk menjalankan sistem pengorganisasian jejaring siaga desa Apren. Lokakarya desa berlangsung pada tanggal 25 oktober 2011 di aula kantor desa Apren, dihadiri oleh kurang lebih 60 orang yang terdiri dari pemerintah desa, BPD, RT/RW, kepala dusun, tokoh agama, tokoh masyarakat, warga masyarakat mulai dari kalangan pemuda, laki-laki, perempuan dan kaum marginal. Kegiatan ini difasilitasi oleh Steny dan Berty dari Increase. Hasil lokakarya desa pengorganisasian system jejaring siaga adalah terciptanya kesepakatan-kesepakatan bersama dan terbentuknya pengurus jejaring siaga tingkat desa. Kesepakatan-kesepakatan bersama desa apren adalah sebagai berikut:
  1. Dana solidaritas bersama (DASOLIN) : 1000/ kk/ bulan
  2. Tabungan ibu hamil (TABULIN) : 10.000/ Bumil/ bulan
  3. Tiap kepala keluarga dan ibu hamil wajib  kumpul dasolin  dan tabulin setiap jadwal kegiatan posyandu  yakni tanggal 1-4  setiap awal bulan
  4. Biaya trasportasi ke fasilitas kesehatan bagi ibu hamil dan sakit gawat darurat: Puskesmas Oekabiti: Rp. 100.000 PP, RSU Naibonat, RSU Kupang: Rp.  250.000 PP
  5. Penggunaan Dasolin selain ibu hamil yang mau melahirkan bagi semua masyarakat harus ada rujukan dari Bidan di Pustu (gawat darurat)
  6. Pengumpulan Dasoloin di mulai per tanggal 1 november 2011
  7. Penggunaan Dasolin per januari 2012
  8. Evaluasi dan monitoring kerja jejaring akan di lakukan setiap tiga bulan

Kunci sukses program desa sehat berbasis masyarakat adalah membangun pertemanan dengan pemerintah desa, masyarakat dan tinggal (live-in) di desa serta survey mawas diri. Melalui Live-in, kami memperoleh banyak informasi mengenai isu-isu kesehatan dan juga banyak pengetahuan baru tentang desa Apren. Dampak yang dapat dilihat dari program ini adalah bahwa sejak bulan Juli 2011 sudah ada bidan yang melayani di pustu dan tinggal tetap di desa. Selain itu dampak lain yang patut dibanggakan adalah masyarakat mulai peduli dengan masalah kesehatannya, khususnya untuk ibu. Data awal yang kami dapatkan di puskesmas bahwa dari sekian desa di Kecamatan Amarasi, penggunaan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan untuk proses persalinan para ibu hamil yang berasal dari desa Apren tercatat paling rendah. Namun setelah program sistem jejaring siaga dilakukan oleh Increase, masyarakat pun mulai sadar untuk menggunakan fasilitas kesehatan guna menolong proses persalinan. Hal ini terbukti dari pengamatan di lapangan bahwa hampir setiap persalinan di desa kini dilakukan di fasilitas kesehatan dan ditangani oleh tenaga kesehatan. Hal lain yang membanggakan saya adalah masyarakat mau mempraktikkan sistem jejaring siaga untuk mengatasi masalah ‘persalinan selamat’ di desa.

Pengorganisasian jejaring siaga baru dilakukan pada bulan September 2011 yang lalu dan sistem ini baru mulai berjalan pasca lokakarya pengorganisian jejaring siaga tingkat desa. Namun dalam waktu relatif singkat, masyarakat mau memanfaatkan sistem ini. Buktinya pada bulan September 2011 yang lalu, ada seorang ibu yang akan melahirkan. Ketika ia mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan, keluarga ibu ini pergi memanggil mama Yakomina Klau (semacam dukun bersalin) untuk membantu proses persalinannya. Mama Mina, begitu biasanya ia disebut, awalnya mengajak ibu yang akan melahirkan tersebut untuk melahirkan di fasilitas kesehatan. Namun  karena masalah biaya, ibu tersebut dan keluarganya bersepakat untuk melahirkan di rumah saja. Ketika ibu ini mengalami masa partus mama Mina mulai mempraktikan sistem jejaring siaga. Secara diam-diam mama Mina menghubungi bidan (Intan Nggadas) yang bertugas di Pustu Apren agar segera datang ke rumah ibu yang tengah mengalami partus tersebut untuk memberi pertolongan. Mama Mina juga menghubungi pemilik kendaraan (Bpk. Aser Pono) yang berada di desa itu agar segera bersiaga di rumah ibu tersebut sehingga bisa mengantarkannya ke fasilitas kesehatan (Puskesmas).

Keputusan yang diambil oleh mama Mina merupakan suatu tindakan yang luar biasa, karena selama ini ia sering menolong persalinan di desanya secara tradisional. Mama Mina juga merupakan kader posyandu yang biasa melakukan pemeriksaan kepada ibu hamil di posyandu. Dalam hal ini, mama Mina selaku fasilitator desa siaga sadar tentang pentingnya persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Lewat proses ini mama Mina telah memberi contoh kepada warga sekitar dan keluarga ini tentang bagaimana kita bersiap siaga dan selalu waspada terhadap suatu proses menuju persalinan selamat dan masalah kegawatdaruratan lainnya. Seringkali, keterlambatan pertolongan persalinan di rumah dapat berakibat pada keselamatan nyawa ibu dan anak yang dilahirkannya. Persalinan penting ditangani oleh tenaga kesehatan dan sebaiknya dilakukan di fasilitas kesehatan guna meningkatkan jaminan kelahiran selamat. Dalam konteks pelayanan kesehatan di desa-desa, apalagi desa yang terpencil, selain ketersediaan fasilitas kesehatan yang terjangkau dan adanya tenaga kesehatan yang terlatih, dukungan warga masyarakat lainnya seperti yang diperkenalkan dalam sistem jejaring desa siaga ini penting untuk penanganan kejadian kegawatdaruratan secara cepat untuk menyelamatkan nyawa ibu dan anak yang dilahirkan.
 
Demikianlah sedikit dari pengalaman saya. Masih banyak kekurangan di dalam proses saya memulai belajar menulis, oleh kerana saya sangat mengharapkan masukan teman-teman dalam cerita ini. Jika ada hal-hal  yang perlu didiskusikan terkait dengan pengalaman ini, silahkan menghubungi saya lewat HP:085253247487, email; stenlyfangidaea@yahoo.co.id.

“Ingat teman!!!!!!!!!!! Kesehatan bukan segala-galanya namun tanpa kesehatan yang baik segalanya menjadi tidak berarti”