Rabu, 18 Januari 2012

DESA SEHAT BERBASIS MASYARAKAT DI DESA OELOMIN
Oleh: Berty Soli Dima Malingara, Icrease Kupang-NTT

Ada apa dengan desa Oelomin?????
Siapa yang tidak ingin sehat dengan kekuatan yang ada? Desa Oelomin membuktikan bahwa mereka bisa menolong diri mereka maupun saudara-saudara mereka yang lain yang ada di desa dengan menjadikan desa mereka sebagai sehat berbasis masyarakat. Mereka bekerja dalam sistem jejaring siaga untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak, menurunkan kasus pendarahan, menurunkan kasus gizi buruk, membiasakan masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat, memberikan hak anak untuk mendapatkan asi eklusif, menjadi keluarga-keluarga sadar gizi, memiliki bank darah, memiliki ambulans desa yang siap dipakai untuk mengantar ibu yang akan melahirkan maupun menolong warga yang gawat darurat, memilki tabungan/ dana solidaritas untuk membantu transport ibu yang mau melahirkan maupun warga yang gawat darurat, memiliki pemahaman yang benar tentang KB, menurunkan angka pernikahan dini dan membantu bidan dengan melakukan pencatatan berbasis masyarakat. Tertarik untuk melihat desa sehat Oelomin berbasis masyarakat Oelomin ?? 

Siapa, Dimana dan apa kekuatan Desa Oelomin?
Desa Oelomin merupakan salah satu desa di Kecamatan Nekamese dalam wilayah kabupaten Kupang yang memiliki luas wilayah 6,13Km2 . Desa Oelomin yang baru terbentuk tahun 2008 dengan kepala desa pertama Yusak Nenogasu dan kepala desa kedua yang masih menjabat sampai saat ini adalah Tuce O A Takesan. Sebelah utara Desa Oelomin berbatasan dengan kelurahan Belo dan Kolhua, kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Sebelah selatan berbatasan dengan desa Oemasi. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Tunfeu dan sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Fatukoa, kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Desa Oelomin memiliki empat buah dusun; Dusun I (Oelomin), Dusun II (Nenup), Dusun III (Naiiko), Dusun IV (Atunifui). Desa Oelomin juga memiliki 8 RW, 16 RT, 320 KK dan jumlah penduduknya 1324 jiwa dengan rincian 592 jiwa laki-laki dan 732 jiwa perempuan. Desa Oelomin memiliki hasil pertanian berupa padi, jagung, pisang dan palawija, sedangkan hasil perkebunan yang paling terkenal adalah jambu mente yang banyak ditanam di dusun IV. Untuk peternakan, hasil ternak yang ada adalah sapi, babi, ayam dan kambing.  Oelomin juga terkenal dengan desa penghasil kayu tongkat dan pakan ternak karena memiliki hutan lamtoro dan mamar yang cukup luas. Oleh karena itu, mata pencaharian utama masyarakat Oelomin adalah bertani dan berkebun tetapi ada juga yang bekerja sebagai PNS (Polisi, Guru, Bidan, PDAM), pedagang, tukang ojek, tukang jahit, tukang tambal ban, sopir, peternak dan ada juga yang menjadi TKI di Kota besar di Indonesia maupun di Luarnegeri. 

Mayoritas masyarakat desa Oelomin beragama Kristen Protestan, tapi ada juga agama lain seperti Kristen Khatolik dan Islam. Ketiga pemeluk agama yang ada di desa Oelomin mempunyai hubungan yang harmonis. Desa Oelomin memiliki 3 Gereja Protestan (GMIT Siloam, GMIT Ora Et labora dan GPDI Bukit Kasih) dengan 2 orang pendeta yang melayani jemaat. Desa Oelomin juga memiliki Sebuah SD ( SD Negeri Tunfeu 2 ) dengan jumlah murid 193 orang dengan tenaga pengajar berjumlah 13 orang. Selain SD, Desa Oelomin juga sudah mulai memikirkan untuk peduli dengan pendidikan anak usia dini ditandai dengan sudah memiliki 5 buah PAUD dengan jumlah anak 113 anak dan dibimbing oleh 13 orang tutor. Dari sisi kesehatan, Desa Oelomin memiliki 2 orang tenaga bidan yang melayani masyarakat di sebuah Polindes, 15 orang kader yang melayani 3 posyandu (Kamboja I, Kamboja II dan Tunas Harapan), 3 orang dukun bersalin dan 4 orang dukun patah tulang. Desa Oelomin juga memilki 13 unit mobil, 122 unit motor dan 771 telepon seluler (HP). Sumber daya alam lain yang dimilliki oelomin adalah 7 buah mata air, 85 sumur gali, 3 buah sumur bor, 285 buah WC dan 1 buah embung. Potensi lain yang sangat kuat dan masih dilestarikan sampai saat ini adalah kerjasama, tolong menolong dan kebersamaan yang disebut dengan istilah bahasa adat Nekamese ( satu hati), Nekamese meup tabuah ( Satu hati untuk bekerjsama), Matulun manek es nok es ( Saling baku bantu), Ba’eki, Bakoa ( Berteriak untuk mengumpulkan orang), Bahaman ( Saling memberitahu antar warga), Okomama (memberikan sirih dan pinang untuk penghargaan bagi tamu), belis (untuk perkawinan ) dan kematian ( memberikan bantuan uang, tenaga, hewan dan barang bagi keluarga yang berduka).

Apa yang menjadi Perhatian Warga Desa Oelomin?
Disamping kekuatan dan potensi yang luar biasa di atas, warga desa Oelomin juga memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan yang terjadi di desa mereka sendiri. Beberapa hal yang menjadi perhatian masyarakat antara lain: pemerintah desa kurang proaktif dalam kegiatan posyandu atau kesehatan ditandai dengan belum adanya alokasi dana desa untuk kesehatan, pemanfaatan kantor desa yang masih minim (kantor desa jarang dibuka, pengurusan administrasi desa dilakukan di rumah kepala desa, pemerintahan desa jarang masuk kantor), pencatatan yang dilakukan bidan kurang lengkap (ada kasus kematian bayu yang tidak terekam di bidan), masih ada kasus kematian bayi, kematian Ibu nifas, kasus pendarahan, gizi buruk, masih ada anak hamil di usia yang masih sangat muda, BPD yang kurang aktif dan kurang mensosialisasikan diri dengan masyarakat, jumlah WC yang belum berimbang dengan jumlah KK, masih ada penyakit gatal-gatal karena kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat, masih ada ibu yang tidak memberikan asi eklusif sebagai hak bayi, bapak-bapak masih Kurang aktif di bidang kesehatan, Kakek nenek kurang dilibatkan dalam pertemuan, pemuda kurang aktif dalam kegiatan desa, kurangnya kerjasama dari tokoh agama, tokoh masyarakat, bidan, kader, pemerintah desa untuk mewujudkan masyarakat yang sehat. Berbagai persoalan tersebut memicu warga untuk terlibat membuat perubahan menjadi desa yang lebih baik sehingga pelayanan terhadap warga desa membaik yang salah satunya bekerja sama di antara warga desa dengan memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki desa.

Mengapa Increase tertarik berkarya di desa Oelomin?

Increase memiliki pengalaman dalam mengembangkan desa siaga di beberapa desa, dan hasilnya cukup membanggakan. Berangkat dari pengalaman tersebut, Increase ingin menularkan kepada desa-desa lainnya sehingga pelaksanaan konsep desa siapa yang digagas oleh Increase dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas di desa lainya. Increase kemudian melanjutkan kerja-kerjanya untuk mengembangkan desa siaga di 10 desa yang terletak di 2 kecamatan di Kabupaten Kupang dengan dukungan dana dari program ACCESS fase II. Increase memilih desa Oelomin menjadi salah satu dampingan. Desa ini dipilih karena ada kasus kematian bayi yang baru dilahirkan. Increase menempatkan seorang staf pendamping yang tinggal (live-in) di desa dampingan. Staf tersebut tinggal selama 20 hari di desa setiap bulannya. Strategi ini dilakukan agar staf yang bersangkutan dapat membangun pertemanan dengan masyarakat desa, menemukan dan menghasilkan fasilitator-fasilitator desa yang mampu memfasilitasi kegiatan-kegiatan di desa Oelomin dan mampu membawa perubahan bagi desa mereka.  Intinya, pengetahuan dan ketrampilan staf lapangan ingin ditularkan kepada para fasilitator desa terpilih sehingga di masa datang merekalah yang menjadi penggerak perubahan di desa Oelomin. 

Kerja-kerja pengorganisasian masyarakat adalah proses yang panjang dan harus dilakukan dengan hati, bukan hanya sekedar proyek. Walaupun demikian, kerja-kerja pengorganisasian juga memerlukan strategi yang terstruktur dan luwes dalam penerapannya di lapangan. Dalam arti tidak kaku terhadap metodologi, namun harus luwes menyesuaikan dengan dinamika yang terjadi di masyarakat. Hal serupa juga terjadi dalam pengorganisasian masyarakat untuk memperkenalkan gagasan desa siaga di desa Oelomin. Kisah berikut ini adalah pembelajaran Increase dalam melakukan pengorganisasian masyarakat di desa Oelomin.
Perjalanan menjadi desa sehat berbasis masyarakat pun dimulai. Beberapa tahapan proses yang dilalui adalah sebagai berikut:

Perkenalan, membangun pertemanan dan mengumpulkan informasi

Pertemanan, adalah tahap dimana kami membangun pertemanan (bulan Maret-Agustus 2010). Tujuan dari tahapan ini adalah membangun hubungan yang baik, berbagi mimpi tentang kondisi  desa yang ingin diwujudkan, memetakan aktor/ tokoh yang bisa diajak bekerja sama dan mampu menjadi penggerak untuk kegiatan yang akan dilakukan, memiliki gambaran umum tentang gambaran umum desa maupun gambaran kesehatan masyarakat, kebiasaan-kebiasaan dan karakter dari masing-masing dusun yang ada di desa Oelomin. Kegiatan tahap ini tidak menggunakan uang, murni berteman dengan siapapun. Increase juga terus membangun pertemanan dengan beberapa tokoh kunci yang ada di desa seperti pemerintahan desa, bidan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan masyarakat desa pada umumnya. Kegiatan yang dilakukan di desa Oelomin adalah berkunjung ke kantor desa, Pustu, mengikuti kebaktian di gereja, mengikuti kegiatan posyandu, menghadiri pesta pernikahan dan kedukaan.



Sosialisasi Program Desa Sehat Berbasis Masyarakat sekaligus pemilihan Fasilitator Desa Siaga (28 Agustus 2011).  
Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan Increase dan program yang akan dilakukan bersama masyarakat, memberikan informasi tentang program yang akan menjadi milik masyarakat desa di bidang kesehatan, memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan, khususnya Kesehatan Ibu dan Anak dan memilih fasilitator desa. 

Dalam pemilihan fasilitator desa, masyarakat secara langsung menyebutkan nama dua orang yang mereka percaya mampu menjadi fasilitator desa (Fasdes). Kedua Fasdes yang disebutkan  juga bersedia menerima tugas yang diamanatkan oleh masyarakat. Kedua Fasdes bernama Ibu Erna Tafuli yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga sekaligus menjadi kader Posyandu dan Bapak Yohanis Toy yang bekerja sebagai tukang kayu dan sekaligus sebagai kepala dusun II desa Oelomin. Dalam sosialisasi ini, kami mendapat dukungan dari kepala Puskesmas karena mereka juga mempunyai program yang sama untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak melalui revolusi KIA.

·       Pengumpulan Data sekunder (Awal Oktober 2010)
Tujuan pengumpulan data sekunder adalah untuk memiliki gambaran umum desa dan gambaran kesehatan yang ada di desa Oelomin. Kegiatan ini dilakukan oleh dua orang Fasdes terpilih dan Increase, dengan menggunakan format yang disiapkan oleh Increase. Increase mendampingi Fasdes mengumpulkan data tersebut di Pustu dengan narasumber Bidan Desa dan di Kantor Desa dengan narasumber kepala desa, sekdes, dan 3 orang KAUR.

Awal Proses penyadaran dimulai…

·      Pembekalan Fasdes untuk melakukan Survey mawas Diri (25-27 November 2010)
Survey mawas diri merupakan survey yang dilakukan oleh masyarakat untuk memotret diri mereka sendiri/ melihat keadaan mereka sendiri baik itu kedaan social budaya, potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, sarana prasarana yang ada dan masalah kesehatan yang ada di desa Oelomin. Dengan melihat kekuatan yang ada maka akan membuat masyarakat bangga dengan keadaan mereka sehingga mereka akan mampu menyelesaikan persoalan kesehatan yang ada di desa mereka dengan menggunakan kekuatan mereka. Masyarakatlah yang menjadi narasumber dan tim 10 yang memfasilitasi kegiatan.

·       Pendampingan Survey Mawas Diri dusun (1-4 Desember 2010)

Kegiatan ini dilakukan di 4 dusun yang ada di Desa Oelomin. Tim 10 membuat masyarakat menemukan kekuatan dan potensi yang ada dalam desa, lebih khusus di dusun. Masyarakat sangat senang karena baru pertama kali dilakukan di Oelomin. Masyarakat berkumpul dari berbagai kalangan dan berbagai umur tanpa memandang satus sosial dan jenis kelamin, semua bebas berbicara dan semua senang berbicara dan bercerita.

·      Analisis hasil Survey Mawas Diri (SMD)
Hasil SMD tingkat dusun dikumpulkan, direkap dan dianalisis bersama oleh tim 10 sehingga bisa memetakan kekuatan dan masalah kesehatan yang terjadi di Desa Oelomin.

·       Lokakarya SMD (20 Januari 2011)
Menyampaikan hasil SMD yang dilakukan kepada masyarakat, Pemerintah desa, Kecamatan dan Puskesmas. Hal menarik disini adalah merupakan kebanggaan masyarakat bisa duduk bersama dengan Camat, Kepala Puskesmas dan LSM. Suasana kekeluargaan yang kuat yang membuat semua bebas berbicara. Hasilnya, Camat dan kepala puskesmas memberikan dukungan bagi desa Oelomin.

·      Pelatihan Pengorganisasian (14-16 juni 2011)
Pelatihan dilakukan di Gereja Ora Et labora, Desa Oelomin bersama dengan tim 10 dari desa Tunfeu dan Besmarak. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman pentingnya bekerja dalam jejaring sehingga memudahkan dalam pencatatan secara mandiri oleh warga desa. 

·       Pendampingan Pengorganisasian (06,07,08,11 Juli 2011)
Tim 10 melakukan pendampingan dengan memberikan penjelasan mengapa harus membentuk jejaring dan memfasiliatsi masyarakat dusun untuk memilih pengurus jejaring tingkat dusun.

·       Lokakarya desa tentang Pengorganisasian (12 Agustus 2011)
Pengesahan pengurus jejaring tingkat dusun sekaligus pemilihan pengurus inti desa siaga desa Oelomin.

Tantangan Pengorganisasian Masyarakat di Desa Oelomin
 
Dalam perjalananan menuju desa sehat, kami juga mengalami kesulitan-kesulitan yang akhirnya bisa kami selesaikan seperti waktu yang selalu molor karena kesibukan masyarakat yang membuat kita harus sabar dan paling cepat menunggu 3 jam untuk memulai kegiatan dan ada beberapa warga yang awalnya tidak setuju tapi kemudian beralih setuju dan membantu kami untuk mensosialisasikan kepada masyarakat. Dalam proses pengorganisasian, ada juga beberapa kakek yang kurang setuju dengan gagasan Dana Solidaritas Masyarakat (dasolin) karena menganggap mereka tidak punya istri dan akan segera meninggal jadi merek tidak mau memberikan dasolin. Tim 10 memberikan pemahaman dan mengajak kakek-kakek untuk memikirkan generasi Oelomin yang lebih sehat untuk bisa menjadi pemimpin yang baik di desa Oelomin. Kakek-kakek akhirnya semangat dan langsung mau menyumbang untuk dasolin.
 
Dari proses tersebut, kami belajar bahwa kebiasaan masyarakat memperoleh bantuan secara cuma-cuma atau gratis yang tidak diikuti oleh upaya pemberdayaan yang menjadiakan masyarakat menjadi kritis dan kuat, seringkali membuat masyarakat enggan untuk membangun desanya secara swadaya. Padahal persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat termasuk kesehatan sangatlah banyak dan penting untuk segera diatasi. Jika hanya berharap dari pemerintah, manalah bisa? Warga harus aktif memperhatikan pembangunan di desanya dan berani menagih tanggung jawab pemerintah ketika lalai menjalankan kewajibannya.
 
Bagaimana dengan perubahan di Desa Oelomin?
Perubahan besar yang terjadi setelah rangkain kerja di atas dilaksanakan adalah fasilitator desa menjadi lebih percaya diri dalam memfasilitasi dan dalam kegiatan-kegiatan di kampung maupun pada saat temu akbar dengan mitra-mitra Increase dan lembaga lain ketika berbicara tentang desa sehat berbasis masyarakat. Kepala Desa terlibat aktif adalam kegiatan posyandu, mengkampanyekan dasolin, mengantar warga yang akan bersalin ke Puskesmas, menyediakan mobilnya untuk menjadi ambulans desa, mendukung kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan di desa, dan sudah memberikan pelayanan masyarakat di kantor desa. Tokoh agama juga sudah mewartakan jadwal posyandu, hasil-hasil kegiatan desa sehat berbasis masyarakat, maupun informasi kesehatan lainnya melalui mimbar gereja, mampu turun ke masyarakat dan bekerjasama dalam tim 10. Pemerintah desa dan BPD menjadi lebih aktif dalam kegiatan-kegiatan dusun maupun tingkat desa dimana BPD memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk tidak bekerja dengan mengharapkan uang tetapi menggunakan kekuatan yang ada. 

Beberapa Warga mendorong agar jejaring segera berjalan karena bermanfaat bagi masyarakat. Ada warga yang langsung menyumbang pada saat pembentukkan jejaring di tingkat dusun. Ada warga yang sadar meminta pemerintah terus mendukung kegiatan di bidang kesehatan. Ada warga yang sadar pentingnya penyuluhan kespro inginkan sosialisasi kesehatan reproduksi karena keponakannya mengalami kasus kehamilan di usia sekolah. Masyarakat (Ibu Hamil, Ibu Bayi Balita, Bapak Bayi Balita) mulai sadar dan terlibat dalam posyandu. Masyarakat terlibat dalam pawai pembangunan tingkat provinsi untuk mengkampanyekan persalinan selamat, masyarakat mulai memberikan tabungan sebagai dana solidaritas bersama, penyuluhan kesehatan reproduksi bagi siswa-siswi SD Negeri Tunfeu 2 oleh guru-guru SD, Bidan juga bisa bekerjasama dengan kader posyandu dan unsur lain. Camat dan kepala puskesmas yang pro aktif dalam mendukung setiap kegiatan, kolaborasi dengan pihak lain yang peduli dengan kesehatan di desa Oelomin.
 
Mengapa bisa membuat perubahan?
Proses pendampingan SMD (Survey Mawas Diri) ternyata menjadi titik kekuatan yang menyumbang pada terjadinya perubahan. Melalui pendampingan SMD, membuat warga sadar bahwa ternyata mereka punya potensi dan menyadari masih adanya persoalan kesehatan yang harus diatasi dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki dan menjadi tanggung jawab masyarakat desa sehingga dalam proses pengorganisasian warga mau untuk menjadi pengurus dan bekerja dalam system jejaring siaga. Proses survey mawas diri melibatkan orang tua, laki-laki, perempuan, pemuda, ibu hamil, ibu bersalin, pemuda, Kami sangat yakin perubahan terjadi kerena ada Keterbukaan, Kepercayaan, komunikasi, kesadaran, kepedulian, keinginan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik, komitmen dan  kerjasama yang baik dari semua unsur yang ada di desa dengan memanfaatkan semua potensi yang mereka miliki maupun unsur lain yang peduli dengan desa Oelomin. Masyarakat sadar kesehatan penting, dan tanpa kesehatan segala sesuatu menjadi tidak berarti.

Testimoni dukungan camat pada saat lokakarya hasil SMD:

“Saya selaku pimpinan wilayah Kecamatan Nekamese memberikan apresiasi kepada tim Desa Siaga dan teman-teman dari Increase yang telah memberikan penguatan kapasitas bagi fasilitator desa Oelomin sehingga mampu melakukan kegiatan Survey Mawas Diri (SMD) di 4 dusun Desa Oelomin ini. Saya harap kegiatan ini dapat membangun dan membawa perubahan desa Oelomin ke arah yang lebih baik, khususnya dalam bidang kesehatan di Desa Oelomin. Saya juga menghimbau kepada masyarakat juga agar tidak bergantung  kepada bantuan dari luar, tetapi dengan potensi-potensi yang ada dan kerjasama dari semua pihak yang ada di desa, mari kita bangun desa Oelomin menjadi desa yang sehat. Yang datang dalam pertemuan ini hendaknya menjadi corong bagi masyarakat Oelomin lain yang tidak hadir pada hari ini. Mari kita bekerja keras dan bersama-sama membangun Oelomin, baik pemerintah desa, semua unsur yang ada maupun LSM-LSM lain yang peduli dengan kesehatan di desa Oelomin agar Oelomin bisa terus menjadi lebih baik. Saya juga berharap dari Desa Oelomin ke depan desa ini akan menjadi contoh buat desa-desa yang lain di kecamatan Nekamese dalam menyelesaikan kasus-kasus KIA”. 

Untuk kepala desa di seluruh kecamatan Nekamese, saya wajibkan untuk membuat tiga perdes dalam tahun 2011 ini. Tiga perdes yang wajib dibuat oleh kepala desa se-Kecamatan Nekamese adalah : Perdes tentang APBDes, Perdes tentang Kesehatan, Perdes tentang Pendidikan. Saya juga memerintahkan kepada Sekdes untuk membuat jadwal untuk Kaur agar berada di kantor Desa. Untuk BPD, saya wajibkan agar mensosialisasikan diri kepada masyarakat dan harus terlibat aktif dalam setiap kegiatan yang terjadi di desa.

Tentang Penulis:
Bery Soli Dima Malingara atau akrab dipanggil Berty, adalah staf lapangan untuk desa Oelomin dari sebuah lembaga swadaya masyarakat yang di Kupang NTT. Berty bisa ditemui di kantor Increase yang beralamat di Jl Asoka No 20, Bakunase, Kupang

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar