Jumat, 13 Januari 2012

DESA SEHAT BERBASIS MASYARAKAT
Oleh Steny, Increase Timor

Visi Pembangunan Kesehatan adalah Indonesia Sehat 2010, hal ini tertuang dalam keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 574/Menkes/SK IV/ 2000. Visi tersebut menggambarkan bahwa pada tahun 2010 bangsa Indonesia hidup dalam lingkungan yang sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat serta mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, sehingga memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Berbagai upaya untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah Propinsi NTT dengan dukungan lembaga internasional telah menunjukan adanya kemajuan, namun masih jauh dari kondisi yang diharapkan. Salah satu penyebab yang perlu dicari pemecahannya adalah masih rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam mengatasi maslah-masalah kesehatan ini.  Pemberdayaan masyarakat sebagai upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat di bidang kesehatan yang telah dilaksanakan di Propinsi NTT ini, belum dapat memberikan kontribusi yang optimal terhadap peningkatan kondisi kesehatan ini. Oleh karenanya upaya-upaya ini masih terus dilaksanakan oleh pemerintah dengan dukungan lembaga-lembaga internasional.

Menindak lanjuti upaya pemerintah dan lembaga internasional untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010, maka saat ini Increase Timor bekerja sama dengan Program ACCESS Fase II - AUSAID membuat satu kontrak kerja untuk mengembangkan desa siaga di kabupaten Kupang dengan tema ”Desa Sehat Berbasis Masyarakat”.

Desa sehat berbasis masyarakat atau desa siaga adalah ”desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya, kemampuan, serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan, secara mandiri” . Tujuan umum desa siaga adalah “Terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya”. Sedangkan tujuan khusus desa siaga adalah “Meningkatnya pengetahuan  dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan, meningkatnya kewaspadaan  dan kesiapsiagaan kmasyarakat desa terhadap resiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah, kegawat-daruratan dan sebagainya meningkatnya  keluarga  sadar  gizi dan melaksanakan perilaku  hidup bersih  dan sehat meningkatnya kesehatan lingkungan di desa serta meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk  menolong  diri sendiri di bidang kesehatan.

Apren adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Amarasi Kabupaten Kupang. Dalam program desa sehat berbasis masyarakat, desa Apren terpilih menjadi salah satu desa dampingan Increase dari 5 desa di wilayah Amarasi. Desa apren  terbentuk pada tahun 1967 sebagai desa gaya baru. Orang pertama yang masuk di desa Apren adalah marga “pono” pada tahun 1800 an. Ada dua versi dari silsilah pono, yaitu pono metan; kemungkinan berasal dari pulau Sabu dan pono moro, kemungkinan berasal dari Lospalos Timor Leste. Desa Apren sendiri merupakan gabungan dari tiga marga yaitu : Abineno, Pono dan Renati. Salah satu alasan Apren menjadi desa dampingan Increase karena dari data awal yang kami dapatkan melalui Puskesmas Okekabiti bahwa sampai saat ini belum ada bidan desa yang melayani di pustu Apren, sekalipun Apren sudah memiliki pustu sejak tahun 2007. Sedangkan salah satu kriteria desa siaga adalah adanya bidan desa yang tinggal tetap di desa untuk memberikan pelayan yang maksimal kepada semua masyarakat desa.

Apren sendiri adalah desa yang memiliki potensi alam yang sangat luar biasa, kelapa dan pisang contohnya. Pandangan dari masyarakat desa Apren adalah dapur kelapa dan pisang untuk kabupaten Kupang hal inilah yang selalu menunjang faktor ekonomi masyarakat Apren. Selain kelapa dan pisang, Apren juga memiliki danau yang sangat luar biasa yakni “Danau Nefokou”. Dari informasi masyarakat, sejak tahun 2008, desa Apren menjadi tuan rumah SAIL PARIWISATA INTERNASIONAL karena keindahan danau Nefokou ini. Kurangnya respon positif dari pihak pemerintah Kabupaten Kupang dan Propinsi NTT, khususnya dinas pariwisata, menyebabkan kurangnya investasi yang masuk untuk mengembangkan aset wisata ini baik secara nasional maupun internasional.

Setelah mendapatkan data dan informasi seputar masalah kesehatan melalui pihak puskesmas, maka kami menetapkan Apren menjadi salah satu desa dampingan kami untuk pengembangan desa siaga. Hal ini kami sampaikan kepada pihak kecamatan dan pada waktu itu camat Amarasi Bapak Daniel Ton pun memberi respon positif tentang hal ini, terbukti dengan dikeluarkannya surat pemberitahuan kepada Pemerintah Desa Apren tentang program yang akan dilakukan Increase selama 28 bulan. Pemerintah Desa Apren pun menerima dengan senang hati.  Kunci sukses masuknya Increase di wilayah Kecamatan Amarasi adalah sistem membangun pertemanan yang kami lakukan baik dengan pihak kecamatan, puskesmas dan pemerintah desa bagi desa-desa yang akan menjadi dampingan kami.

Proses awal kegiatan kami melakukan sosialisasi program desa siaga dan pemilihan fasilitator desa. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan diri sekaligus memperkenalkan program kepada masyarakat, memberikan informasi tentang program yang akan menjadi milik masyarakat desa di bidang kesehatan, menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan, khususnya kesehatan ibu dan anak. Sedangkan pemilihan fasilitator desa bertujuan untuk bersama-sama pendamping mengumpulkan data sekunder tentang infomasi desa berkaitan dengan masalah kesehatan. Dalam proses ini para peserta yang hadir bersepakat untuk memilih ibu Yakomina Klau dan ibu Jublina Abineno sebagai fasilitator desa. Pertemuan dilakukan di aula kantor desa dan yang dihadiri oleh pihak kecamatan (kasie Kesos), puskesmas, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda dan beberapa warga lainnya desa baik laki-laki maupun perempuan. Jumlah peserta mencapai 40 orang. Kegiatan sempat tertunda beberapa jam karena kehadiran masyarakat yang tidak tepat waktu karena berbagai kesibukan, naman saya sebagai pendamping yang mamfasilitasi kegiatan ini beserta undangan  lainnya tetap menanti dengan semagat sampai kehadiran mencapai kurang Lebih 40 orang peserta. Terlambatnya warga untuk menghadiri pertemuan-pertemuan di kampung merupakan salah satu kendala lapangan yang sering kami alami sehingga memerlukan kesabaran untuk menunggu sebelum pertemuan dimulai.

Kegiatan lanjutan yang dilakukan setelah sosialisasi desa siaga, pemilihan fasilitator desa dan pengumpulan data sekunder adalah Survey Mawas Diri (SMD). Namun sebelum melakukan SMD, kami memilih 8 orang dari desa bersama fasilitator desa yang kami sebut dengan Tim 10 dan dilanjutkan membuat pelatihan bagi fasilitator desa (Fasdes) untuk pelaksanaan SMD.  Tujuan kegiatan ini adalah untuk mempersiapkan fasilitator-fasilitator desa melakukan proses fasilitasi SMD dengan menggunakan Teknik PLA (Participatory Learning and Action) dan panduan pertanyaan seputar kesehatan ibu dan anak (KIA). Subtansi pelatihan berkisar tentang beberapa teknik pengumpulan informasi, (wawancara, diskusi), kalender musim, diagram kelembagaan, peta desa dan peta mobilitas Ibu hamil. Survey Mawas Diri merupakan survey yang dilakukan oleh masyarakat untuk memotret diri mereka sendiri/melihat keadaan mereka sendiri baik tentang keadaan sosial budaya, potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, sarana prasarana yang ada dan masalah kesehatan yang ada di desa. Dengan melihat kekuatan yang ada maka akan membuat masyarakat bangga dengan keadaan mereka sehingga mereka akan mampu menyelesaikan persoalan kesehatan yang ada di desa mereka dengan menggunakan kekuatan mereka. Masyarakat sendirilah yang memberikan informasi-informasi sehingga diharapkan fasilitator mampu menggali sedalam mungkin tentang potensi, masalah serta informasi lain yang termuat dalam panduan. Peserta yang dilatih adalah Tim 10 yang diambil dari beberapa unsur, yaitu 2 orang fasilitator desa terpilih, 3 orang pemerintah desa dan 5 orang kader Posyandu. Kegiatan ini dilakukan selama 3 hari bertempat di aula kantor desa Oenoni. Kegiatan pelatihan ini bukan hanya ditujukan untuk tim dari desa Apren, namun juga untuk tim dari desa Oenoni.

Setelah melakukan pelatihan bagi tim 10, selanjutnya pendamping bersama tim melakukan Survey Mawas Diri di tingkat 4 dusun mulai sesuai jadwal dan kesepakatan dengan pemerintah desa serta kepala dusun. Kegiatan SMD ini bertujuan untuk menggali potensi dan masalah yang ada di desa berkaitan masalah kesehatan. Dalam Proses Survey Mawas Diri, masyarakat sangat antusias dan sangat senang karena tim mengawali survey dengan menggali sejarah desa, potensi-potensi yang ada di desa (potensi SDA, SDM dan sarana prasarana), budaya-budaya atau kearifan lokal yang ada di desa, kebiasaan yang dilakukan oleh ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, menyusui dan cerita keberhasilan yang pernah mereka raih. Masalah-masalah kesehatan yang terjadi di desa seperti kasus kematian bayi, kematian ibu bersalin maupun kasus pendarahan juga disampaikan oleh masyarakat dan diketahui oleh beberapa masyarakat yang belum tahu tentang masalah kesehatan yang ada di desa. Ada hal-hal yang mereka anggap tabu untuk dibicarakan tapi ketika Fasdes menyampaikan dengan bahasa daerah maka mereka akhirnya bisa menceritakan itu kepada tim 10.

Dalam SMD, kami selalu memberitahukan kepada masyarakat bahwa mereka adalah narasumber/ pemilik informasi karena mereka yang mengalami dan mengetahuinya. Kegiatan di tingkat dusun di fasilitasi oleh pendamping dan tim 10. Biaya survey dikelola oleh Increase berupa biaya snack dan makan siang untuk warga dan biaya transportasi untuk Tim 10. Kendala yang dihadapi dalam kegiatan ini adalah molornya waktu kegiatan serta masih tingginya persepsi masyarakat tentang lembaga luar atau donor yang masuk ke desa akan memberi bantuan-bantun fisik.

Setelah kegiatan SMD berakhir, pendamping dan Tim 10 bersama-sama melakukan anlisa hasil informasi yang diperoleh dari setiap dusun. Proses analisa menggunakan pola sebab akibat, dimana setiap persoalan atau masalah-masalah yang ditemukan dicari penyebabnya, akibatnya, hal positif, hal negatif, solusi, dan ada rekomendasi umum yang akan di bawa pada lokakarya desa hasil Survey Mawas Diri. Lokakarya desa merupakan proses pemberdayaan masyarakat dalam menganalisa situasi kesehatan mereka sendiri, menggunakan informasi guna memahami dan menyadari situasi kesehatan mereka dan mempertimbangkan potensi yang mereka miliki untuk merencanakan aksi guna meningkatkan kondisi kesehatan mereka. Proses lokakarya ini dilakukan di kantor desa dengan menghadirkan masyarakat agar hasil SMD di setiap dusun dapat di ketahui secara bersama-sama. Peserta kegiatan sosialisasi hasil SMD tersebut kurang lebih 60 orang. Kegiatan sosialisasi memakan biaya Rp 750 ribu, dibiayai oleh Increase dan juga ada kontribusi dari desa sebesar Rp 50 ribu.

Tindak lanjut dari SMD adalah pengorganisasian jejaring siaga tingkat dusun sampai tingkat desa. Namun sebelum kami turun ke dusun-dusun untuk memulai kegitan ini, kembali kami mengadakan pelatihan bagi Tim 10 untuk penguatan kapasitan berkaitan dengan cara membangun sistem jejaring siaga. Pelatihan ini dilakukan bersama Tim 10 desa Oenoni dan yang menjadi tuan rumah adalah desa Apren. Perlu diketahui bahwa selain mendampingi desa Apren, pendamping juga mendampingi desa Oenoni yang bertetangga dengan desa Apren yang juga masuk dalam wilayah Kecamatan Amarasi Kabupaten Kupang. Kegiatan berlangsung selama 3 hari di balai pertemuan dusun 3 desa Apren. Biaya pelatihan ditanggung oleh Increase Timor, mulai dari ATK hingga dukungan transportasi Tim 10. Kontribusi pemerintah desa Apren adalah menyediakan gedung untuk tempat pelatihan. Di akhir pelatihan, pendamping bersama Tim 10 menyusun rencana tindak lanjut pengorganisasian jejaring siaga tingkat dusun sampai dengan lokakarya desa dan pengorganisasian sistem siaga. Pengorganisasian sistem siaga merupakan suatu  proses menggerakkan masyarakat  untuk  membentuk  dan melaksanakan sistem pertolongan kegawatdaruratan kesehatan di  di tingkat desa, berdasarkan prinsip dari oleh dan untuk  masyarakat. Yang dimaksud ‘dari masyarakat’ adalah ditandai dengan membangun inisiatif masyarakat untuk menggunakan segala sumber daya yang ada di desa baik yang berasal dari sumber daya lokal maupun dari sumberdaya yang dapat diakses masyarakat  dari luar desa. Sedangkan yang dimaksud ‘oleh masyarakat’, ditandai dengan pengambilan peran yang optimal oleh masyarakat untuk melaksanakan sistem siaga tanpa tergantung sepenuhnya dari inisiatif pihak luar. Sumberdaya yang telah dimiliki masyarakat  berupa dana maupun  fasilitas lain dikelola oleh masyarakat  berdasarkan menejemen transparan melalui keputusan bersama di tingkat  desa.’Untuk masyarakat’, ditandai dengan segala pelayanan  yang diatur dalam siaga ditujukan kepada seluruh  warga desa tanpa terkecuali guna  meningkatkan kondisi kesehatan masyarakat serta menyelamatkan dari resiko kematian.

Untuk desa Apren, pengorganisasian jejaring siaga tingkat dusun dimulai pada bulan September 2011 yang lalu dimana pendamping bersama tim 10 turun ke 4 dusun di desa Apren. Kegiatan di tingkat dusun difasilitasi oleh pendamping dan Tim 10 dan di danai oleh Increase berupa biaya snack dan makan siang, dan untuk tim 10 di siapkan biaya transportasi.

Kemandirian masyarakat dalam mengelola sistem siaga tidak diartikan bahwa mereka tidak menerima bantuan dari luar. Bantuan dari luar bukan merupakan hal yang tabu, tetapi sebagai penguatan terhadap  sumber daya yang dimiliki masyarakat. Dengan cara ini maka masyarakat akan merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan sistem siaga.

Menindaklanjuti apa saja yang sudah di buat di tingkat dusun, maka untuk menyatukan kesepakatan-kesepakatan bersama, kami melakukan lokakarya desa. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyamakan kesepakatan dan memilih pengurus jejaring tingkat desa. Hasil lokakarya desa merupakan dasar yang digunakan untuk menjalankan sistem pengorganisasian jejaring siaga desa Apren. Lokakarya desa berlangsung pada tanggal 25 oktober 2011 di aula kantor desa Apren, dihadiri oleh kurang lebih 60 orang yang terdiri dari pemerintah desa, BPD, RT/RW, kepala dusun, tokoh agama, tokoh masyarakat, warga masyarakat mulai dari kalangan pemuda, laki-laki, perempuan dan kaum marginal. Kegiatan ini difasilitasi oleh Steny dan Berty dari Increase. Hasil lokakarya desa pengorganisasian system jejaring siaga adalah terciptanya kesepakatan-kesepakatan bersama dan terbentuknya pengurus jejaring siaga tingkat desa. Kesepakatan-kesepakatan bersama desa apren adalah sebagai berikut:
  1. Dana solidaritas bersama (DASOLIN) : 1000/ kk/ bulan
  2. Tabungan ibu hamil (TABULIN) : 10.000/ Bumil/ bulan
  3. Tiap kepala keluarga dan ibu hamil wajib  kumpul dasolin  dan tabulin setiap jadwal kegiatan posyandu  yakni tanggal 1-4  setiap awal bulan
  4. Biaya trasportasi ke fasilitas kesehatan bagi ibu hamil dan sakit gawat darurat: Puskesmas Oekabiti: Rp. 100.000 PP, RSU Naibonat, RSU Kupang: Rp.  250.000 PP
  5. Penggunaan Dasolin selain ibu hamil yang mau melahirkan bagi semua masyarakat harus ada rujukan dari Bidan di Pustu (gawat darurat)
  6. Pengumpulan Dasoloin di mulai per tanggal 1 november 2011
  7. Penggunaan Dasolin per januari 2012
  8. Evaluasi dan monitoring kerja jejaring akan di lakukan setiap tiga bulan

Kunci sukses program desa sehat berbasis masyarakat adalah membangun pertemanan dengan pemerintah desa, masyarakat dan tinggal (live-in) di desa serta survey mawas diri. Melalui Live-in, kami memperoleh banyak informasi mengenai isu-isu kesehatan dan juga banyak pengetahuan baru tentang desa Apren. Dampak yang dapat dilihat dari program ini adalah bahwa sejak bulan Juli 2011 sudah ada bidan yang melayani di pustu dan tinggal tetap di desa. Selain itu dampak lain yang patut dibanggakan adalah masyarakat mulai peduli dengan masalah kesehatannya, khususnya untuk ibu. Data awal yang kami dapatkan di puskesmas bahwa dari sekian desa di Kecamatan Amarasi, penggunaan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan untuk proses persalinan para ibu hamil yang berasal dari desa Apren tercatat paling rendah. Namun setelah program sistem jejaring siaga dilakukan oleh Increase, masyarakat pun mulai sadar untuk menggunakan fasilitas kesehatan guna menolong proses persalinan. Hal ini terbukti dari pengamatan di lapangan bahwa hampir setiap persalinan di desa kini dilakukan di fasilitas kesehatan dan ditangani oleh tenaga kesehatan. Hal lain yang membanggakan saya adalah masyarakat mau mempraktikkan sistem jejaring siaga untuk mengatasi masalah ‘persalinan selamat’ di desa.

Pengorganisasian jejaring siaga baru dilakukan pada bulan September 2011 yang lalu dan sistem ini baru mulai berjalan pasca lokakarya pengorganisian jejaring siaga tingkat desa. Namun dalam waktu relatif singkat, masyarakat mau memanfaatkan sistem ini. Buktinya pada bulan September 2011 yang lalu, ada seorang ibu yang akan melahirkan. Ketika ia mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan, keluarga ibu ini pergi memanggil mama Yakomina Klau (semacam dukun bersalin) untuk membantu proses persalinannya. Mama Mina, begitu biasanya ia disebut, awalnya mengajak ibu yang akan melahirkan tersebut untuk melahirkan di fasilitas kesehatan. Namun  karena masalah biaya, ibu tersebut dan keluarganya bersepakat untuk melahirkan di rumah saja. Ketika ibu ini mengalami masa partus mama Mina mulai mempraktikan sistem jejaring siaga. Secara diam-diam mama Mina menghubungi bidan (Intan Nggadas) yang bertugas di Pustu Apren agar segera datang ke rumah ibu yang tengah mengalami partus tersebut untuk memberi pertolongan. Mama Mina juga menghubungi pemilik kendaraan (Bpk. Aser Pono) yang berada di desa itu agar segera bersiaga di rumah ibu tersebut sehingga bisa mengantarkannya ke fasilitas kesehatan (Puskesmas).

Keputusan yang diambil oleh mama Mina merupakan suatu tindakan yang luar biasa, karena selama ini ia sering menolong persalinan di desanya secara tradisional. Mama Mina juga merupakan kader posyandu yang biasa melakukan pemeriksaan kepada ibu hamil di posyandu. Dalam hal ini, mama Mina selaku fasilitator desa siaga sadar tentang pentingnya persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Lewat proses ini mama Mina telah memberi contoh kepada warga sekitar dan keluarga ini tentang bagaimana kita bersiap siaga dan selalu waspada terhadap suatu proses menuju persalinan selamat dan masalah kegawatdaruratan lainnya. Seringkali, keterlambatan pertolongan persalinan di rumah dapat berakibat pada keselamatan nyawa ibu dan anak yang dilahirkannya. Persalinan penting ditangani oleh tenaga kesehatan dan sebaiknya dilakukan di fasilitas kesehatan guna meningkatkan jaminan kelahiran selamat. Dalam konteks pelayanan kesehatan di desa-desa, apalagi desa yang terpencil, selain ketersediaan fasilitas kesehatan yang terjangkau dan adanya tenaga kesehatan yang terlatih, dukungan warga masyarakat lainnya seperti yang diperkenalkan dalam sistem jejaring desa siaga ini penting untuk penanganan kejadian kegawatdaruratan secara cepat untuk menyelamatkan nyawa ibu dan anak yang dilahirkan.
 
Demikianlah sedikit dari pengalaman saya. Masih banyak kekurangan di dalam proses saya memulai belajar menulis, oleh kerana saya sangat mengharapkan masukan teman-teman dalam cerita ini. Jika ada hal-hal  yang perlu didiskusikan terkait dengan pengalaman ini, silahkan menghubungi saya lewat HP:085253247487, email; stenlyfangidaea@yahoo.co.id.

“Ingat teman!!!!!!!!!!! Kesehatan bukan segala-galanya namun tanpa kesehatan yang baik segalanya menjadi tidak berarti”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar